Sabtu, 30 November 2019

Resume Pendalaman Terapi Sholat Bahagia


LAPORAN
PENDALAMAN TERAPI SHOLAT BAHAGIA
PTSB atau bisasa disebut dengan Pendalaman Terapi Sholat Bahagia merupakan pelatihan/ pendalaman yang didirikan oleh Prof. H. Moh. Ali Aziz M. Ag sekaligus sebagai trainer dan founder Pelatihan Terapi Shalat Bahagia (PTSB) dan Yayasan Kun Yakuta Fondation yang mempunyai kantor di Gang 1 Siwalankerto No. 141 Surabaya, Jawa Timur. Beliau merupakan guru besar/dosen pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya sejak tahun 2004, beliau juga termasuk trainer internasional, unsur Ketua Majlis Ulama Indonesia Jawa Timur, Ketua Dewan Pengawas Syariah Bank Jatim (2011-sekarang), Konsultan Pendidikan Yayasan Khadijah (2011-sekarang), Pengisi Mimbar Islam di TVRI Jatim, Kajian Terapi Shalat Bahagia di RRI Jakarta pro. 1 dan 4 (91.2 FM dan 92.8 FM) dan Radio El Victor Surabaya 93.3 FM, beliau juga Pendakwah internasional sekaligus Imam shalat taraweh yang sudah berkeliling di Benua Asia, Eropa bahkan Afrika, seperti umat islam di Hongkong, Macau, Senzhen, Taiwan (2000-sekarang), Malaysia (2004), Jepang (2006 dan 2013), Iran (2008,2009,2010), Mauritius-Afrika (2000), Inggris (2005), Belanda (2007), Bangladesh (2013, 2014, 2015) dan Nepal (2015). Di PTSB lah ini orang bisa merasakan dahsyatnya kekuatan energy sholat.
PTSB ini merupakan implementasi dari buku 60 menit terapi sholat bahagia karya Prof. H. Moh. Ali Aziz M. Ag dan di sisi lain hal ini dilatarbelakangi beliau juga pernah merasakn sakit. Hal inilah yang membuat beliau ingin menjadikan sholat sebagai sarana untuk terapi penyembuhan dan  mendapatkan kedahsyatan pengaruh shalat terhadap kehidupan manusia dengan kata kunci SUBHAN TURUT HADIR di MASJID untuk AKSI SOSIAL. Hal ini sesuai dengan keinginan beliau untuk menjembatani arti yang penuh dengan makna yaitu panggilan hayya ‘alas shalah (ayo shalat) menuju hayya ‘alal falah (ayo sukses dan bahagia). Kebanyakan orang-orang berfikiran bahwa hayya ‘alal falaah hanya berarti mari menuju kemenangan, sebenarnya lebih dari itu  PTSB ini ingin konsrtibusi bagi umat islam untuk memberikan bimbingan dan pelatihan/pendalaman serta  praktek sholat agar para peserta bisa lebih kuat dan bisa memantapkan keyakinan akan kebesaran Allah, percaya diri, optimis. Ribuan orang di Indonesia, Amerika Serikat, Kanada, Belanda, Swiss, Belgia, Tokyo, Taiwan, Hong Kong, Bangladesh dan sebagainya telah mengikuti pelatihan terapi sholat bahagia ini. Mereka merasakan kenikmatan shalat, berfikir positif, dan optimis menjalani hidup, bahkan sebagian sembuh dari penyakit bersamaan dengan pengobatan oleh dokter. Di sinilah kita mnegetahui  bahwa pada dasarnya tujuan utama sholat adalah kokohnya mindset T2Q (Tawakkal, tumakininah, dan qona’ah). Banyak dari peserta dari PTSB ini yang mengalami perubahan secara berangsur-angsur. Beliau sudah banyak membuktikannya dengan berbagai laporan dari beberapa peserta yang telah mengalami perubahan baik itu penyakit baik penyakit kepala, penyakit organ dalam, ataupun penyakit phobia dengan hal-hal tertentu. Beliau telah mengadakan kegiatan pendalaman/pelatihan terapi sholat bahagia di berbagai tempat di Indonesia, Kawasan Asia atau bahkan di Eropa. Ada 59 PTSB antara lain Seperti TSB Masjid Wanchai Hong Kong PTSB Masjid Besar Taichung PTSB Mushalla FKPIT Yilan Taiwan, PTSB Freeport, PTSB Aula Kendedes Luzhou Taipei  PTSB Bappeprov Jatim, PTSB Dokter/karyawan/umum RS Haji Surabaya PTSB (Angkatan I-V) Masjid Al Qolbu Sidoarjo, PTSB Guru-Guru Teladan Tuban, PTSB Guru-guru SMA Khadijah Surabaya, PTSB Lembaga-lembaga Sosial Khadijah.
Pendalaman terapi sholat bahagia (PTSB) ini sangat sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan beliau sendiri memberikan perhatian ekstra terhadap masalah shalat. Beliau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh pelaksanaannya secara detail, dari awal sampai akhir, dari takbir sampai salam. Ini semua menunjukkan pentingnya shalat dalam Islam. Harusnya ini sudah sepatutnya menjadikan sholat sebagai motivasi bagi kita khususnya kaum Muslimin untuk selalu bersemangat dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari. Terlebih jika kita memperhatikan berbagai keitimewaan shalat, maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk bermalas-malasan dalam melaksanakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَجُعِلَتْ قُرَّةَ عَيْنٍ فِيْ الصَّلَاةِ
dan telah dijadikan penghibur (penghias) hatiku (kebahagiaanku) pada shalat.” (HR. An-Nasai. Shalat merupakan ibadah yang sangat dicintai Allah, dialah amal yang merupakan salah satu dari  lima rukun Islam. Ciri utama seorang mukmin sejati adalah menegakkan shalat wajib yang lima waktu dan ibadah tersebut dilakukan dengan keimanan karena mengharap ridha-Nya. Dengan harapan  amalan yang mulia ini agar diterima di sisi Allah swt.  Maka harus kita sepatutnya meneladani dan mencontoh bagaimana petunjuk Allah dan Rasul-Nya dalam melakukannya baik itu gerakan maupun bacaannya. Shalat yang dilakukan dengan benar dan ikhlas, akan membuat hati bahagia, jiwa damai, dan menghilangkah kegelisahan hidup. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh dalam mengerjakan shalat baik dalam keadaan lapang, maupun saat terhimpit suatu masalah. Dari sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Bila kedatangan masalah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat.” (HR. Ahmad) Shalat adalah media penting untuk mendekatkan diri pada Allah Ta’ala, lebih-lebih saat sujud, ia akan merasa semakin dekat dengan Allah Ta’ala. Allah-lah tempat hamba mengadu, memohon pertolongan dan hati seorang mukmin akan tenteram ketika shalat. Oleh karena itu, kita diperintahkan Allah Ta’ala untuk memperbanyak doa dan permohonan kepada-Nya dengan shalat ketika jiwa kita galau, cemas, merasa gundah, dan mengalami berbagai kesulitan hidup yang menghimpit. Beliau juga berkata kepada sahabat Bilal radhiyallahu ‘anhu: “Wahai Bilal, kumandangkan iqamah shalat, buatlah kami tenang dengannya.” (Dihasankan al-Albani).
Dr. Hasan bin Ahmad bin Hasan al-Fakki berkata, ”Tatkala shalat dijadikan sebagai pembangkit ketenangan dan ketenteraman (jiwa) serta sebagai terapi psikologis maka tidak mengherankan jika sebagian dokter jiwa menganggapnya sebagai terapi utama dalam penyembuhan para pasien penyakit jiwa. Salah seorang di antara mereka ada yang mengatakan bahwa sepertinya shalat ini salah satu terapi yang mampu mendatangkan kehangatan jiwa manusia. Sesungguhnya shalat bisa menjauhkan dirimu dari segala kesibukan yang membuatmu gundah dan resah. Shalat ini pun mampu membuatmu merasa tidak menyendiri dalam hidup ini dan mampu membuatmu merasakan bahwa Allah menyertaimu. Di samping itu, ternyata shalat mampu memberimu kekuatan dalam bekerja, yang sebelumnya dirimu tidak mampu berbuat apa-apa. Maka pergilah ke kamar tidurmu! Lalu mulailah melakukan shalat untuk menghadap Rabbmu.” (Ahkam al-Adwiyah Fii asy-Syari’ah al–Islamiyah, hlm. 549-550)
Sungguh beruntung dan bahagia seorang mukmin ketika shalat yang dilakukan dengan khusyuk dan jiwanya menjadi tenang karena ia berkomunikasi dengan tuhannya. Dzat yang mampu menyingkirkan kesulitan dan Dzat yang selalu memberi kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Ibnu al-Qayyim menjelaskan faedah shalat. Beliau mengatakan bahwa shalat termasuk faktor dominan dalam mendatangkan maslahat dunia dan akhirat, serta menyingkirkan keburukan dunia dan akhirat. Ia menghalangi dari dosa, menolak penyakit hati, mengusir kelukaan fisik, menerangi kalbu, mencerahkan wajah, menyegarkan anggota tubuh dan jiwa, dan memelihara kenikmatan, menepis siksa, menurunkan rahmat, dan menyibak tabir permasalahan.”
Sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk menjalankan salat lima waktu. Banyak pelajaran yang kita ambil di dalam setiap gerakan sholat. Tak hanya sebagai sarana beribadah, gerakan salat juga diyakini memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh menurut riset sains yaitu sebagai berikut:
1.      Takbiratul Ihram : Mengangkat kedua tangan sampai posisi tangan sejajar dengan telinga. Lalu didekapkan dibawah dada atau perut. Makna mengangkat tangan ketika takbir adalah menunjukan bahwa seorang hamba itu seakan-akan tenggelam dalam lautan kesalahan-kesalahan dan kemaksiatan. Oleh sebab itu, ia mengangkat kedua tangannya seakan ia mengatakan “Wahai Tuhanku, ambillah kedua tanganku, sungguh aku sedang tenggelam dalam lautan kesalahan-kesalahan dan kemaksiatan yang telah lari dari-Mu dan ingin menuju-Mu.” Sedangkan bacaan (Al-Fatihah dan surah) adalah suatu teguran atau komunikasi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Manfaat : dapat memperlancar aliran darah dan getah bening didalam tubuh. Selain itu juga dapat memperkuat otot bagian tangan, dimana hal tersebut dikarenakan oleh gerakan mengangkat tangan yang dapat meregangkan otot bagian tangan.
2.      Rukuk : Dimana posisi tubuh kita pada saat rukuk itu membungkuk dengan sudut 45 derajat dan posisi tangan membentuk siku dengan menahan ke bagian paha atau lutut kaki. makna ruku’ adalah seakan-akan seorang yang sedang melaksanakan shalat itu mengatakan, “Akulah hamba-Mu, dan sungguh aku telah menghamparkan tanganku kepadaMu.” Manfaat : dapat menjaga struktur tulang belakang kita dalam posisi yang tegak atau sempurna, dan juga menjaga posisi saraf pusat tetap baik. Selain itu juga dapat memperlancar aliaran darah dari otak ke seluruh bagian tubuh.
3.      I'tidal : Posisi tubuh kita bangkit dan berdiri tegak sesaat. makna berdiri dari ruku’ disertai dengan mengucapkan rabbanaa lakal hamdu (Ya Tuhan kami, segala puji bagiMu) adalah suatu permohonan kepada Allah swt. agar dibebaskan dari segala dosa. Lalu Allah swt. seakan-akan berfirman, “Sungguh aku telah membebaskanmu dari segala dosa.” Manfaat : membuat pencernaan menjadi lebih bagus, karena gerakan ini berporos pada bagian perut yang terdapat bermacam-macam organ pencernaan, sehingga perut kita serasa sedang dipijat.
4.      Sujud : Dahi menyentuh lantai dengan posisi kedua kaki ditekuk sedangkan tangan juga menyentuh ke lantai. Makna dari sujud yang pertama dan diletakkannya dahi di atas tanah adalah seakan-akan seorang hamba itu berkata, “Dari tanahlah Engkau menciptakanku.” Kemudian makna sujud yang kedua adalah seakan-akan ia mengatakan, “Dan di dalamnya lah Engkau akan mengembalikanku (dikubur di dalam tanah ketika meninggal dunia)”. Manfaat : membuat aliran darah yang menuju ke otak menjadi lebih lancar, dan membuat daya berpikir seseorang akan menjadi lebih baik. Disarankan : ketika sedang bersujud itu jangan tergesa-gesa atau menggunakan waktu sujud sedikit lebih lama. Sehingga aliran darah ke otak semakin baik.
5.      Duduk Diantara Dua Sujud : Posisi ini sama dengan Tahiyatul Awal, dengan posisi duduk dengan kaki sebagai tumpuan. makna mengangkat kepala dari sujud yang pertama adalah seakan-akan ia mengatakan, “Darinya (tanah) Engkau mengeluarkanku.” Dan makna bangun dari sujud yang kedua adalah seakan-akan ia mengatakan, “Dan darinya (tanah) Engkau mengeluarkanku lagi (dibangkitkan di hari Kiamat untuk dihisab).” Manfaat : dapat menghilangkan rasa nyeri pada bagian pangkal paha yang menjadikan seseorang  itu akan susah untuk berjalan.
 Saatnya kita meraih energi baru, inspirasi, optimisme, rasa percaya diri dan solusi atas masalah-masalah belajar Anda melalui terapi shalat. Mungkin ketika kita tiba-tiba tidak mood belajar, sulit menghafal, minder dalam kelas dan pergaulan, menghadapi dosen killer, HP, game dan internet, kekurangan biaya, belajar sambil bekerja aktif organisasi, dan sebagainya. Mulailah dari sekarang kita rajin sholat apapun sholat itu dan terbitkan harapan-harapan baru bersamaan dengan terbitnya mentari setiap pagi. Benamkan semua masalah Anda bersamaan dengan terbenamnya mentari di sore hari. Selamat bersiap menyambut masa depan yang cemerlang dan membanggakan. Semoga shalat yang selalu kita lakukan mampu membuat kita menjadi hamba-Nya yang banyak bersyukur, membuat hati lebih tunduk pada Allah, dan membersihkan hati dari penyakit hati sehingga tenang dan damai dalam menghambakan diri pada-Nya. Aamiin.


Selasa, 01 Oktober 2019

materi Pendakwah


“PENDAKWAH”
Oleh
Luthfi Abdillah (B94219083)
M. Romadlon Aji (B94219086)
M. Fahmi Ashari (B94219084)

Kelas D3
Dosen Pengampu
Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M. Ag

Asisten Dosen 1
Ati’ Nursyafa’ah M. Kom I

Asisten Dosen 2
Baiti Rahmawati S. Sos


  
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN AMPEL SURABAYA
2019




KATA PENGANTAR
            Puji syukur kepada Allah SWT. yang telah memberi nikmat, kesempatan untuk mengerjakan tugas ini, solawat dan salam kami panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Terima kasih kepada Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag dan ibu Ati’ Nursyafa’ah, M. Kom.I serta ibu Baiti Rahmawati, S.Sos yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengerjakan tugas ini.
            Saya berharap buku ini bisa memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan dakwah islam dimasa mendatang.

Surabaya, 23 Agustus 2019


Penulis





DAFTAR ISI

Kata Pengantar...........................................................................................                   ii
Daftar Isi.....................................................................................................                   1
BAB I PEMBAHASAN.............................................................................                   2
A.    Kualifikasi Pendakwah........................................................................                   2
B.     Pendakwah Strategis...........................................................................                   7
C.     Kemuliaan Pendakwah........................................................................                   9
D.    Problematika Seputar Pendakwah......................................................                   13
BAB II PENUTUP....................................................................................                   20
DAFTAR PUSTAKA................................................................................                   21





BAB I
PEMBAHASAN

A. Kualifikasi Pendakwah
Pendakwah  adalah  pelaku dakwah. Ia disebut juga sebagai Da’i. Sebagaimana dakwah bisa dilakukan dengan lisan, tulisan, dan perbuatan maka pendakwah juga demikian, seorang penulis tentang keislaman, penceramah islam, guru agama islam, guru ngaji dan lembaga keislaman lainnya adalah termasuk sebagai pendakwah.
Dakwah bisa dilalukan oleh individu maupun kelompok, dakwah perorangan dilakukan oleh seseorang dan dakwah kelompok oleh sebuah lembaga atau organisasi. Dakwah merupakan  kewajiban bagi seluruh ummat muslim sehingga setiap orang yang melakukan dakwah dapat disebut sebagai pendakwah, namun pendakwah juga dibagi dua menurut keahlian dan keilmuannya, yakni secara umum dan secara khusus. Secara umum adalah setiap muslim yang sudah dewasa dan berdakwah sesuai dengan kemampuannya. Secara khusus adalah muslim yang telah ahli atau fokus mempelajari tentang agama islam, yaitu ulama, ustadz, mubalig, dan lain sebagainya.[1]
Saat ini jalan dakwah sangat rumit, seorang pendakwah harus melewati berbagai rintangan dan cobaan, oleh sebab itu, seorang pendakwah harus mempunyai persiapan sebelum berdakwah. Banyak da’i yang tidak kuat dengan rintangan dan cobaan dalam berdakwah yang akhirnya menepi dan menyerah dari jalan dakwah. Zaman  sudah semakin maju, ilmu pengetahun dan teknologi telah berkembang sangat pesat, oleh karena itu dakwah bisa dibilang bertambah sulit, sebagai pendakwah di era yang sekarang ini harus benar-benar mempunyai kompetensi yang mumpuni dalam dirinya.
Menurut Abdul Munir Mulkhan, kompetensi dai dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kompetensi substantif dan kompetensi metodologis. Kompetensi substantif berupa kondisi dai atau mubaligh dalam dimensi idealnya. Secara garis besar ada tujuh kompetensi substantif atau kompetensi dasar bagi seorang dai atau mubaligh:
1.       Pemahaman agama Islam secara cukup, tepat dan benar: tugas seorang dai adalah menyebarkan agama Islam ke tengah masyarakat. Semakin luas pengetahuan agama seorang mubaligh, semakin banyak ia mampu memberikan ilmu kapada masyarakat. Di samping itu, pemahaman Islam harus tepat dan benar. Artinya, berbagai bid’ah, kufrat, dan tahayul yang sering kali ditempelkan oleh Islam harus dihilangkan sama sekali.
2.       Pemahaman hakikat gerakan dakwah: gerakan dakwah adalah amar ma’ruf nahi munkar dalam menampilkan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat senantiasa dikembalikan pada sumber pokok, yaitu al-Qur’an dan al-Hadis. Gerakan dakwah merupakan suatu alat, bukan tujuan. Perjuangan untuk menegakan amal shalih di zaman modern tidak mungkin dilakukan kecuali dengan organisasi yang rapi dan modern.
3.       Memiliki akhlak al karimah: setiap dai harus memiliki akhlak yang mulia karena mereka akan dijadikan panutan oleh masyarakat. la akan selalu diikuti oleh umat. Oleh karena itu, akhlak al karimahharus menjadi pakaian sehari-hari para dai.
4.       Mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan umum yang relatif luas: agar para dai mampu menyuguhkan ajaranajaran Islam dengan lebih baik, ia harus memiliki pengetahuan umum yang relatif luas. Dalam kenyatannya, para dai yang efektif adalah mereka yang mempunyai pengetahuan yang cukup luas.
5.       Mencintai audiens dengan tulus: pada dasarnya, para dai adalah pendidik umat. Oleh karena itu, sifat-sifat pendidik yang baik seperti tekun, tulus, sabar, dan pemaaf juga harus dimiliki oleh para juru dakwah atau dai.
6.       Mengenal kondisi lingkungan dengan baik: menyampaikan pesan pesan Islam tidak akan berhasil dengan baik tanpa memahami lingkungan atau ekologi sosial-budaya dan sosio-politik yang ada. Tabligh Islam tidak dapat dilepaskan dari setting kemasyarakatan yang ada. Di sinilah dai harus jeli dan cerdas memahami kondisi umat ijabah dan umat dakwah yang dihadapi supaya dapat menyodorkan pesan-pesan Islam tepat sesuai dengan kebutuhan mereka.
7.       Memiliki rasa ikhlas liwajhillah: seorang dai harus memiliki semboyan, “Kami bertabligh kepadamu semata-mata hanya karena Allah, kami tidak meminta imbalan darimu dan tidak pula kami mengharap pujian”. Semboyan ini harus perlu menjadi niat dalam melaksanakan dakwah Islam. Jika keikhlasan telah menjadi dasar dalam berdakwah, maka rintangan, hambatan, dan penghalang apapun yang dihadapi insya Allah tidak akan menjadi hal yang memberatkan dan tidak akan membuat putus asa baginya.
Kompetensi-kompetensi substantif di atas adalah sesuatu yang wajib adanya bagi setiap dai. Kompetensi tersebut adalah kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang dai. Selain itu, seorang dai juga harus memiliki kompetensi metodologis, yaitu sejumlah kemampuan yang harus dimilki oleh seorang dai yang berkaitan dengan masalah perencanaan dan metodologi dakwah. Dengan ungkapan lain, kompetensi metodologis adalah kemampuan yang ada dalam diri dai sehingga ia mampu membuat perencanaan dakwah yang akan dilakukan dengan baik, sekaligus mampu melaksanakan perencanaan tersebut. Kompetensi metodologis berhubungan dengan kemampuan dai untuk merencanakan dakwah karena aktivitas dakwah pada dasarnya mempunyai tujuan untuk mempengaruhi dan merubah pola pikir, perilaku, dan tindakan manusia yang kurang baik menjadi lebih baik. Untuk megubah pola pikir dan perilaku seseorang tidaklah mudah sehingga dakwah harus direncanakan secara matang agar dakwah dapat berjalan efektif dan efisien.[2]
Menurut Al-Bayanun dalam bukunya Fikih Dakwah mengatakan bahwa seorang pendahwah harus memiliki perkara-perkara penunjang dakwah yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.             Iman kepada perkara yang ia serukan, karena sesungguhnya keimanan pendakwah terhadap perkara yang ia serukan, pemahamannya terhadap kepentingan, serta kebutuhan masyarakat.
2.             Mempunyai hubungan yang erat dengan Allah, karena para pendakwah merupakan pihak yang paling membutuhkan pertolongan dan penyelarasan dari Allah.
3.             Ilmu dan pemahaman tentang apa yang ia bawakan, karena hanya orang-orang yang berilmu saja yang mampu mengemban dakwah ini dengan sebenarnya.
4.             Mengamalkan ilmunya serta konsisten dalam tingkah lakunya, karena tidak akan ada kebaikan sama sekali manakala ilmu tidak diiringi dengan perbuatan.
5.             Pemahaman yang komprehensif, yaitu pemahaman para pendakwah terhadap hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan dakwah, sama saja berkaitan dengan:
a.              Realitas dan tuntutan-tuntutan dakwah di eranya.
b.             Kondisi sosial kemasyarakatan objek dakwahnya.
c.              Ataupun perkara yang berkaitan dengan pendakwah itu sendiri dan yang terkait dengan waktu dan kondisi
6.             Bijaksana dalam bersikap, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Sudah seharusnya pendakwah itu arif dalam metode-metode dakwahnya, memilih metode yang baik dan sesuai dengan objek dakwahnya serta menempatkan metode yang sesuai dengan kondisinya.
7.             Bertingkah laku dengan akhlak yang baik. Merupakan kewajiban bagi para pendakwah untuk memaksa dirinya berhias dengan akhlak yang mulia dan menghindari dari akhlak-akhlak yang buruk.
8.             Berprasangka baik kepada segenap muslimin. Seorang pendakwah hendaklah berbaik sangka kepada muslimin secara keseluruhan serta memberikan keputusan pada mereka dengan bukti-bukti yang jelas.
9.             Menutupi aib orang lain.
10.         Bersosialisasi dengan masyarakat manakala hal itu diperlukan, dan menyingkir dari masyarakat manakala hal itu dibutuhkan.
11.         Termasuk sifat para pendakwah  ialah menempatkan seseorang sesuai dengan kemampuannya.
12.         Termasuk sifat para aktivis dakwah ialah saling tolong menolong dengan pihak lain dalam pelaksanaan dakwah, bermusyawarah dan saling menasihati antar sesama aktivis dakwah.
13.         Sifat aktivis dakwah yang lainnya ialah selalu mengerti bahwa dia dituntut untuk menjadi pribadi sempurna yang diteladani tanpa cela.[3]

A.      Pendakwah Strategis
Tentu kita sebagai makhluk yang selalu berinteraksi dengan manusia yang lain apalagi kita sebagai pendakwah, pastinya kita mempunyai hal yang harus dimiliki oleh kita yaitu tentang strategi. Harold D. Laswell mengatakan cara yang terbaik untuk menerangkan kegiatan komunikasi adalah menjawab elemen pertanyaan sebagai berikut: who (siapa komunikatornya), says what (pesan apa yang dikatanya), in which channel (Media apa yang digunakan), to whom (siapakah komunikasinya), dan with what effect (efek apa yang diharapkan).[4]
            Nabi Muhammad Saw, sebagai imam para Da’i, telah menerapkan strategi dakwah secara bijak, sehingga melalui beliau, Allah memberi manfaat kepada hambaNya dan menyelematkan mereka dari syirik menuju tauhid. Siasat beliau tersebut bermanfaat dalam menyukseskan dakwahnya, membangun negaranya, menguatkan kekuasaanya, dan meninggikan kekuasaanya. Sepanjang sejarah politik umat manusia tidak pernah ada seseorang pun pembaru yang mempunyai pengaruh besar seperti Nabi Muhammad Saw. Terkumpul adanya jiwa seorang pemimpin, pendidik yang bijak, kecerdasan akal, orisinalitas pendapat, semangat yang kuat serta kejujuran. Semua itu telah terbukti pada diri beliau.[5]
            Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar komunikator dengan seseorang komunikan, bersifat dialogis berupa percakapan.[6] Komunikasi interpersonal mempunyai ciri khusus yaitu sifat komunikasinya dua arah, adanya timbal balik antara komunikator dengan komunikan. Komunikasi jenis ini dianggap lebih efektif dalam hal upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang. Menurut Mortensen (1972)[7].
            Dalam proses komunikasi dakwah, seoran pendakwah wajib mempertimbangkan patut tidaknya sebuah pesan yang disampaikan. Tidak semua pesan yang disampaikan bisa beradaptasi, memberikan solusi, atau bahkan bisa diterima dengan senang hati, oleh sebab itu, diperlukan pertimbangan lain yang bersifat humoris. Jangan sampai pesan dakwah yang disampaikan justru akan menimbulkan kontra produktif dengan tujuan dakwah yang seharusnya dicapai. Dengan demikian diharapkan bahwa dakwah trsebut mampu bersifat adaptif, solutif, loyalis, atau produktif. Artinya bahwa tersebut bisa beradaptasi dengan lingkungan, bisa menerima pesan dakwah dengan kesadaran mereka sendiri melalui pesan yang disampaikan bahasa yang menyenangka hati atau humoris[8]

B.       Kemuliaan Pendakwah
Dakwah itu merupakan kegiatan yang mulia karena dakwah itu hanya Allah SWT berikan kepada Nabi, Rasul, dan Umat terdahulu saja. Namun khusus umat Nabi Muhammad Saw, itu special, kita yang bukan nabi bahkan Rasul, ternyata juga menerima tongkat estafet dakwah nabi Muhammad Saw, Karena kita adalah umat terbaik dan menjadi perantara manusia lain untuk lebih mengenal Allah.[9]
Rasullullah saw berdakwah dengan tujuan adalah agar masyarakat Arab meninggalkan masa kejahilianya di bidang agama, moral dan hukum, sehingga meyakini kebenaran kerasulan nabi Muhammad saw dan ajaran islam yang disampaikanya, kemudian mengamalkanya dalam kehidupan sehari- hari. Pada masa dakwah secara sembunyi – sembunyi ini, Rasullullah saw menyeru untuk masuk islam orang orang yang berada di lingkungan rumah tangganya sendiri dan kerabat serta sahabat dekatnya. Mengenai orang- orang yang telah memenuhi seruan dakwah Rasullullah saw tersebut adalah, Khadijah binti Khuwailid, Ali bin Abu Thalib, Zaid bin Haritsah, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Ummu Aiman.
            Kemudian Rasullullah dakwah secara terang- terangan ini dimulai sejak tahun ke – 4 dari kenabian yakni setelah turunya wahyu yang berisi perintah Allah SWT agar dakwah itu dilaksanakan secara terang-terangan. Al Quran Surah 26: 214 – 216.
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ (٢١٤) وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (٢١٥) فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ (٢١٦                                                           
 214. Dan berilah peringatan kepada kerabat kerabatmu yang terdekat, 215. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman. 216. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan".[10]
Di era sekarang tugas kenabian nabi Muhammad saw dilanjutkan perjuanganya oleh para ulama, kyai, mubalig untuk memberikan dan menyebarkan keilmuanya tentang agama islam dan menjadi tokoh masyarakat di sekitar kita melalui majelis – majelis ilmu yang diadakan. Majelis ilmu ini sangat bermanfaat bagi umat muslim untuk memperdalam keilmuan islamnya. Namun banyak orang – orang juga menganggap majelis ilmu tidak penting karena membuang – buang waktu dalam mendengarkan majelis ilmu tersebut. Rasullullah saw bersabda:” apabila kalian melewati taman- taman surga ambilah selalu hasilnya.” Para sahabat bertanya: “ apakah taman- taman surga itu, ya Rasulullah ?” Beliau menjawab : “ Majelis-majelis ilmu.” (HR. Tabrani). Dalam Hadist Riwayat Tabrani Rasulullah pun bersabda bahwa majelis ilmu itu penting bagi umat muslim karena akan memperdalam ilmu keislaman kita[11].
Mengikuti majelis ilmu pun tidak hanya sekedar mengikuti saja namun juga harus menyerap atau memahami ilmu yang dibagikan oleh pemateri tersebut. Dalam mengikuti majelis ilmu sendiri kita juga harus mengajak keluarga dan sahabat kita untuk mengikuti majelis ilmu tersebut. Dengan mengikuti majelis ilmu tersebut akan membukakan hati kita untuk berbuat lebih baik lagi kedepanya setelah mengikuti majelis ilmu tersebut seperti dalam kisah Lukmanul hakim yang berkata kepada anaknya ”wahai anak – anaku,  hendaknya engkau menyertai para ulama dan dengarkan  ucapan ahli hikmah, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan tanah yang mati dengan air dan hujan” ( Targhib )[12]. Ulama dan kyai serta mubalig adalah penerus perjuangan nabi Muhammad Saw dan khilfah di muka bumi ini untuk memberikan pengetahuan Amar ma’ruf nahi mungkar kepada masyarakat mengajak untuk  berbuat kebaikan dan menjauhi kejahatan.
Sebagai khalifah di bumi ini untuk memberikan pencerahan atau memberikan ilmu keislaman yang baik kepada masyarakat seorang pendakwah harus mempunyai kriteria yang dan keilmuan yang  cukup mumpuni agar ilmu tersebut dapat dipahami oleh orang yang mendengarkan ceramah tersebut.Tidak hanya ilmu yang diperhatikan tetapi juga harus mempunyai perilaku yang dapat dijadikan contoh oleh masyarakat dan juga mampu berguna bagi masyarakat tersebut tentunya.
“Al- Habib ‘Abdullah bin ‘ Alawi al-Haddad (t.t: 15-16 ) meguraikan tipologi pendakwah ditinjau dari ilmu dan amal atau antara fatwa dan perilakunya”. Berikut Kriterianya:
1.       Pendakwah memiliki menguasai ilmu agama, perilakunya sesuai dengan keilmuanya, dan ia ikhlas mengajarkan dan mengajak orang lain mengikuti ilmunya.
2.       Pendakwah yang menguasai ilmu agama, perilakunya sesuai dengan ilmunya, tetapi ia enggan untuk mengajarkan ilmunya kepada masyarakat luas. Jika keenggananya disebabkan oleh sifat kikirnya atau sengaja menyembunyikanya, maka ia berdosa. Namun jika meninggalkan dakwah tersebut karena kesibukan menjalankan kewajiban agama lainya, sementara masih ada ulama lain yang berdakwah maka ia tidak berdosa.

3.       Pendakwah yang memiliki kedalaman ilmu agama, bersemangat mengajarkan ilmunya kepada masyarakat luas, tetapi perilakunya tidak sesuai dengan ilmunya. Penyimpangan dari syariat islam ini adakalanya karena malas dan berat melakukanya atau selalu menunda- nunda. Pendakwah jenis ini ingin cepat terkenal, menganggap dakwah lebih penting daripada keteladanan. Ia diibaratkan memberi pakaian kepada orang lain, sedangkan dirinya dalam keadaan telanjang.

4.       Pendakwah yang memiliki kedalaman ilmu agama, namun ia tidak menjalankan ilmu yang dimiliki dan juga enggan mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Keinginan duniawi lebih menguasai dirinya seperti, harta, takhta, popularitas, dan sebgaianya

5.       Pendakwah yang memiliki kedalaman ilmu agama, namun ia tidak menjalankan ilmu yang dimiliki dan juga enggan mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Sebaliknya, ia menyebarkan kesesatan dan mencampur aduk antara yang benar (haq) dan yang salah (bathil). Kesesatan kemudian diikuti oleh banyak orang bahkan lintas generasi di belakangnya. Ini yang ditegakan dalam Al – Quran surah  al – Baqarah (2) ayat 79.[13]       

فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِندِ اللّهِ لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُونَ ﴿٧٩﴾
Seorang Pendakwah mempunyai ciri khas masing – masing untuk menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat melalui majelis ilmu yang diadakanya. Dan banyak pemahaman yang berbeda setiap ulama,kyai atau mubalig tapi hal itu jangan sampai membuat perpecahan antara umat islam di muka bumi ini. Namun dalam dakwah kolektif, masing – masing pendakwah saling melengkapi satu sama lain.
Orang yang mengajarkan kebaikan seperti pendakwah, ulama dan mubalig adalah orang yang bersekutu dengan kebaikan dan juga orang yang belajar dalam hal kebaikan maka juga akan mendapat ganjaran yang sama. Rasullullah Saw. Bersabda, “ Orang yang mengajar dan diajar keduanya bersekutu dalam kebaikan, tidak ada lagi kebaikan pada sekalian manusia selain mereka.” ( HR. Ibnu Majah).[14]

D. Problematika Seputar Dakwah
            Setiap manusia yang hidup pastilah mendapatkan cobaan, tidak lain seorang pendakwah, sering kali terjadi, pendakwah sukses atau kondang bukannlah mereka yang pintar dalam suatu ilmu, namun mereka selalu mengamalkan ilmu yang didapatnya kepada orang lain . meski hidup tidak selalu mulus, maka tanpa sikap pantang menyerah, kita akan kehilangan momentum puncak keberhasilan kita terutama dalam berdakwah. Thomas Alva Edision mengatakan, banyak orangyang gagal dalam hidup adalah orang – orang yang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah.[15]
Secara bahasa problem berasal dari bahasa inggris yang berarti masalah. Sedangkan dakwah berasal dari bahasa arab yang berarti ajakan. Secara istilah dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang dihadapi seseorang ketika mengajak dalam hal kebaikan, pada hakikatnya merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan itu sendiri karena telah terwujud sebagai hasil dari kebudayaan manusia itu sendiri, dan akibat dari interaksi sesama manusia.
Salah satu fenomena sosiologis yang menarik dan posistif yang kita saksikan pada tahun tahun terakhir ini, sekalipun radius pengaruhnya terbatas, ialah semakin melemahnya orientasi budaya golongan di kalangan umat islam di Indonesia. Mengapa kita harus bersikap positif dan simpati terhadap gejala itu? Pertama karena gejala itu mungkin sebagai salh satu manifestasi dari kesadaran sejarah umat yang semakin dewasa dalam menilai perjuangan masa lampau yang lebih didominasi oleh orientasi budaya golongan, tapi yang paling banyak membuahkan kegalalan yaitu khususnya di bidang politik  dan ekonomi. Kedua dari rasa simpati kita terhadap semakin melemahnya orientasi golongan di kalangan umat islam dapat ditafsirkan sebagai suatu protes damai dari generasi muda ummat, khususnya mereka yang cerdas dan komplematif, terhadap dosa-dosa sejarah yang dibuat pada masa lalu atas dasar pemahaman yang persial terhadapa al.quran[16]
Dalam berdakwah pasti ada rintangan atau masalah yang harus pendakwah hadapi, diantaranya yakni:
1.       Pendakwah Perempuan

Pada zaman sekarang ini banyak pendakwah perempuan yang terkenal di Indonesia contoh saja Mamah Dedeh. Beliau ini adalah sosok perempuan yang disegani oleh perempuan di Indonesia karena ilmunya. Beliau sering mengisi acara keislaman seperti di Indosiar, Trans 7 dan masih banyak lagi. Lalu hal ini banyak diperdebatkan oleh kalangan ulama. Antara lain apakah boleh atau tidaknya perempuan berdakwah karena berkomunikasi dengan lawan jenis ataupun suaranya itu aurat. Sebenarnya  dalam hadits riwayat Bukhori Muslim dari Sa’id Al. Khudri yang dikutip dari awal buku ini bahwa diantara peserta pengajian adalah perempuan. Keterangan tersebut bahwa dapat disimpulkan kalau perempuan diperbolehkan untuk pengajian agama, berdakwah, menuntut ilmu dll.[17]

2.             Berdakwah Kepada Umat Non Islam

Hal tersebut juga dijadikan pembahasan di kajian islam. Namun kita lihat dari sudut pandang bahwa  agama islam adalah agama yang rohmatan lil alamin. Jadi yang selama ini diperselisihkan diantara umat islam. Tercantum dalam al. quran surat al.imron ayat 110, dalam terjemahan Indonesia yaitu
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan unutk manusia , menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, dan beriman kepada Allah . Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka diantara mereka yang beriman, dan ebanyakan mereka adalah orang orang yang fasik (QS. Al. Imron[3]:100.[18]

3.             Honor Bagi Pendakwah
Sekarang di Indonesia banyak memanfaatkan dakwah sebagai profesi, padahal dakwah itu merupakan syiar agama kepada orang orang dengan tujuan mengajak kebaikan dan menjauhi kemungkaran. Namun faktanya masih banyak ditemui dakwah itu sebagai media pencari pekerjaan. Sebenarnya dalam islam bahwa al.quran telah menyebutkan bahwa pendakwah tidak diperkenankan meminta upah dari dakwahnya. Sedangkan hukum bagi pendakwah yang meminta dan menerima imbalan karena memberikan jasa dakwah adalah makruh. Jika ia melakukannya maka ia tidak dikenakan dosa, tetapi menjatuhkan martabatnya. Secara etika, meminta imbalan dari kegiatan dakwah lebih buruk daripada sekedar menerimanya. Meminta berarti pendakwah menentukan honoriumnya baik secara sepihakl maupun negosiasi. Adapun menerima imbalan semata, tidak meminta minta, berarti pendakwah bersikap pasif, tidak meminta minta merupakan dari penentuan mitra dakwah. Sementara pendakwah berhak menerima atau menolaknya.[19] Jadi pendakwah yang menerima honor ataupun tidak itu tergantung pada niat sang pendakwah.
4.             Pengkaderan
          merupakan hal serius yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang ini. Yaitu pada pemudanya. Karena mereka merupakan aset besar bangsa dalam menyongsong globalisasi. Sekarang ini tidak dapat dipungkiri lagi bahwa banyak pemuda Indonesia yang terjerumus ke jalan yang suram seperti minum minuman keras, narkoba , pergaulan bebas dan masih banyak lagi. Dengan membekali pemuda dengan aqidah yang kuat, maka mereka mempunyai benteng yang tangguh dalam era globalisasi dan informasi sekarang ini, insyaallah masa depan dakwah kita akan tetap ceria.
Dari semua masalah pasti ada sebuah faktor yang memicu adanya masalah tersebut dari jalan dakwah, dibawah ini adalah faktor-faktor penyebab problematika dakwah:
1.              Perbedaan Kepentingan
Kita ketahui bahwa setiap orang yang ada di muka bumi ini pasti mempunyai tujuan yang berbeda beda, yang ditimbulkan dari tingkah laku individu. Antara yang menyampaikan pesan dan yang menerima pesan belum tentu saling memahami dan mengerti apa yang telah diucapkan oleh si pendakwah. Dengan berpegang pada prinsip bahwa tingkah laku individu merupakan cara atau alat dalam memenuhi kepentingannya masing masing. Maka kegiatan kegiatan yang dilakukan manusia hakikatnya merupakan manifestasi dari kepentingan tersebut.[20]
2.              Berdakwah melalui Media Sosial
Banyak kita  jumpai sekarang ini dakwah tidak hanya disampaikan lewat pengajian saja tetapi sudah banyak disampaikan melalui media sosial seperti youtube, instagram, facebook, twitter dll. Beberapa tahunterakhir ini, banyak kelompok radikalilsme, tekstualisme menyebarkan konten keislaman yang kaku dan tekstual. Maka kita sebagai kelompok islam moderat harus lebih giat lagi dalam berdakwah dengan menggunakan media sosial sehingga model keislaman masyarakat kita tidak kaku[21]



BAB II
PENUTUP
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa pendakwah mempunyai peranan penting dalam masyarakat sebagai pembimbing untuk membawa masyarakat yang lebih bermartabat dan sesuai tatanan masyarakat Indonesia. Tentu dalam berdakwah pasti ada rintangan dan cobaan yang dialami, maka sudah sepatutnya kita sebagai satu kesatuan masyarakat harus saling babu membahu untuk menjaga kesatuan dan kesatuan negara kesatuan republic indonesia



DAFTAR PUSTAKA

A. Muchlishon Rochmat, “Dakwwah Bil Medsos” dalam https://www.nu.or.id (diakses pada 24 Agustus 2019 pukul 08.49 Am)
Al Bayanun, M abu fath, Fiqih Dakwah, Surakarta: Indiva Pustaka, 2008.
Andaara, Rastha Mahesta, Tak kenal, tak dakwah, Jakarta: Gramedia, 2019.
Aziz, Moh Ali. Ilmu dakwah. Jakarta: Kencana. 2017.
De Vito, Joseph A, The Interpersonal Communication book, New York: Harper and Row Publisher, 1989.
Effendy, Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi: teori dan praktek, Bandung: Remaja Rosyda Karya. 1985.
Fisher, Dalam Aubrey. Teori – teori komunikasi, Bandung: Remaja Rosyda Karya. 1986.
Hamidi. Teori komunikasi dan strategi dakwah, Malang: UMM press. 2010.
Moekijat, Dalam, Teori Komunikasi, Bandung: Mandar Maju. 1993.
Organius, Yan. Islam dan Pengetahuan Sains, Bogor: Bee Media Pustaka. 2012.
Rahmat, Jalaludin. Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosyda Karya. 1994.
Rif’an, Ahmad Rifai’I, Generasi Emas. Jakarta: Exel Media Komputindo, 2019.
Sunarto, Retorika Dakwah, Surabaya: Jauhar. 2014.
Syafii Maarif, Ahmad Membumikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.
Tasmuji, IAD-ISD-IBD, Surabaya: Uin Sunan Ampel Press. 2018.





[1] Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 (Jakarta: Kencana, 2017), h. 186

[2] Nawawi, Kompetensi Juru Dakwah (Vol.3 ,No.2, Juli-Desember 2009), hh 4-5
[3] M. Abu Fath Al- Bayanun, Fiqih Dakwah, Cet 1 (Surakarta: Indiva Pustaka, 2008), hh. 75-88
[4] Joseph A. DeVito, The Interpersonal Communication Book (New York: Harper and Row Publisher, 1989)
[5] Hamidi, Teori Komunikasi dan Strategi Dakwah ( Malang: UMM press, 2010)
[6] Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi: Teori danPraktek (Bandung: Remaja Rosyda Karya, 1985) hal.9
[7] Dalam Aubrey Fisher, Teori –
Teori Komunikasi ( Bandung : Remaja Rosyada karya, 1986), hal 424
[8] Sunarto, Retorika Dakwah, (Surabaya: Jauhar, 2014), h. 104
[9] Mahesta Rastha Andaara, Tak kenal, Maka Tak Dakwah, cet 1 (Jakarta: Gramedia, 2019) hh. 6-7.
[10] Depag RI, Al quran h. 376
[11] Yan Organius, Islam dan pengetahuan sains ( Bogor: Bee Media Pustaka,2012)
[12] Yan Organius, Islam dan Pengetahuan Sains ( Bogor: Bee Media Pustaka,2012)
[13] Moh Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 ( Jakarta: Kencana, 2017) hh 197-198.
[14] Yan Organius, Islam dan Pengetahuan Sains ( Bogor: Bee Media Pustaka,2012)
[15] Ahmad Rifa’I Rif’an, Generasi Emas, Cet 1( Jakarta: Elex Media Komputindo, 2019), h.298
[16] Ahmad Syafii Maarif, Membumikan Islam Cet. 1 ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995) hh. 102-103
[17] Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 (Jakarta: Kencana, 2017), h. 216
[18] Depag RI, Al quran h. 94
[19] Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Cet 6 (Jakarta: Kencana, 2017), h. 221
[20] Tasmuji, IAD-ISD-IBD, Cet 8 (Surabaya: UIN Sunan Ampel Press, 2018) h. 120
[21] A. Muchlishon Rochmat, “Dakwwah Bil Medsos” dalam https://www.nu.or.id (diakses pada 24 Agustus 2019 pukul 08.49 Am)

SEJARAH LAHIRNYA GERAKAN WAHABI DI ARAB SAUDI

 SEJARAH LAHIRNYA GERAKAN WAHABI DI ARAB SAUDI Bermula pada mundurnya kekhalifahan turki ustmani di daerah kekuasaannya khususnya di timur t...